06/04/2005
Puisi Hati Emas
Karena kebaikan lebih kuat dari kematian
Orang yang berhati emas
Adalah matahari yang menyinari dunia
Jika ia meninggal
Mataharinya berpindah
Dari langit
Ke dalam jiwa setiap manusia
Orang yang berjiwa mulia
Harus rela kehilangan dirinya
Karena setiap orang merasa berhak memilikinya
Dan karena untuk mengasihi semua orang
Ia perlu hidup seribu tahun lamanya
Jika orang yang berhati mulia
Menjalankan kewajiban
Untuk meninggalkan dunia
Maka sesungguhnya dunia tak merelakannya
Jutaan manusia menangisinya
Laut dan gunung-gunung
Ingin pergi bersamanya
Bahkan kehidupan ingin berhenti saja
Daripada meneruskan langkah
Tanpa didampingi oleh manusia berjiwa mulia
Roma 5 April 2005
Emha Ainun Nadjib
Puisi ini diciptakan oleh Cak Nun ketika berada di Roma tepat pada saat dan di ilhami kepergian Paus Paulus II.
Kuforward puisi ini dan kupersembahkan kepada Jiwa-jiwa mulia lainnya, dan satu yg mutlak berhak menerimanya, Rasuluhu Sallallahu Alaihi wasallam, Muhammad sang Jiwa Agung.
15:25 Permalink | Comments (1) | Email this
W.S. Rendra's

Nice Words from Rendra
Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra).
Puisi Rendra menjawab kegamanganku dalam kejauhan anak rantau. Bencana, cobaan, keberuntungan, kesusahan, kegembiraan selayaknya menjadi cerminan bagi kita atas apa yang terucap dari mulut kita setiap menghadap-Nya..
Teringat akan janji-Nya melalui kata kata Baginda S.A.W:
''Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.'' (HR. Bukhari-Muslim)
lagipula, bukankah Dia telah menjanjikan sesuatu di KitabNya?
''Tiada sesuatupun bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi menyombongkan diri.'' (Al-Hadid:22-23)
Dalam kegelisahan, keletihan dan kekalutan hatiku, terbesit kesadaran bahwa Tuhan sedang memberiku kemurahan-Nya dengan mengampuni segudang besar kesalahan dan dosa-dosaku..
10:55 Permalink | Comments (1) | Email this
04/04/2005
Sri Paus vs Imam Khomeini
Sri Paus Paulus II merupakan tokoh yg turut aktif berusaha menciptakan perdamaian dunia. Salah satu inti ajaran islam adalah perdamaian, bahwa islam harus menjadi agama yg Rahmatan lil-alamiin.
Surat Paus Paulus II Kepada Imam Khomeini (dr milist Padhang-Mbulan):
Kepada Yang Mulia
Ayatullah Ruhullah Khomeini
Saya sangat prihatin dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika dengan negara anda. Saya juga menyampaikan sentimen saya ini kepada Yang Mulia Bani Sadr, sebagai presiden Republik Islam Iran; kepada Sekretaris Jendral PBB, DR. Kurt Waldheim; dan kepada Yang Mulia Jimmy Carter, presiden Amerika.
Saya mohon kepada Tuhan, dengan kebaikan dan kemurahan-Nya, semoga Dia melindungi rakyat anda dan mencegah kesulitan dan bahaya yang lebih besar dari meningkatnya ketegangan tersebut. Saya berharap, dengan pengaruh wewenang anda, akan membantu terciptanya solusi bagi situasi serius tersebut, dengan solusi yang adil; yang diilhami oleh penghargaan atas nasib rakyat, dan yang akan bermanfaat bagi kemajuan rakyat dan seluruh manusia dalam keadilan dan perdamaian.
11 April 1980
Johanes Paulus II
Jawaban Imam Khomeini kepada Sri Paus:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Kepada Yang Mulia Sri Paus,
Pesan anda, yang mencerminkan kegelisahan atas memburuknya hubungan antara negara Islam Iran dan Amerika, telah saya terima. Saya menghargai niat baik anda dan perhatian anda atas hal itu; dimana negara kami menganggap bahwa langkah pemutusan hubungan tersebut sebagai pertanda baik, dan negara kami merayakannya dengan kebahagiaan.
Saya berterima kasih atas doa anda kepada Tuhan bagi rakyat pejuang kami, tetapi perlu anda ketahui bahwa anda tidak perlu khawatir atas munculnya masalah dan bahaya yang lebih besar, seperti yang anda sebutkan dalam surat anda. Karena rakyat muslim Iran selalu siap menyambut masalah akibat langkah pemutusan hubungan, dan mereka tidak takut atas munculnya bahaya yang lebih besar.
Yang berbahaya bagi rakyat kami justru ketika hubungan tersebut dibangun sebagaimana yang dilakukan oleh rezim terdahulu, dan hubungan seperti itu tidak akan pernah dibangun kembali.
Saya berharap, dengan pengaruh spiritual anda pada masyarakat Nasrani, anda memperingatkan pemerintah Amerika untuk bertanggungjawab atas tindakan tirani, gangguan, dan perampasan mereka. Dan menasihati Carter, yang sedang mengalami kekalahan, untuk membiarkan negara-negara yang menginginkan kemerdekaan mutlak dan tidak ingin bergabung dengan setiap kekuatan di dunia, sebagaimana nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Isa as; dan tidak membiarkan dirinya dan pemerintah Amerika berkubang pada skandal yang lebih jauh.
Saya memohon kepada Allah atas kesejahteraan bagi mereka yang tertindas di muka bumi, dan berharap semoga mereka segera terbebas dari tangan-tangan penindas.
16 April 1980
Ruhullah Al-Musavi Al-Khomeini
11:37 Permalink | Comments (0) | Email this
